Usaha Disepelekan, Sebulan Hasilkan Laba Bersih Rp 10 Juta

Kisah Pelaku UMKM Cimi-Cimi Harti Krezzz


07 Okt 2019, 09:57:53 WIB

Usaha Disepelekan, Sebulan Hasilkan Laba Bersih Rp 10 Juta

JAGA KUALITAS: Rika Suhardani kerap melakukan survei ke retail-retail modern yang menjual produknya. Hal ini dilakukan untuk menjaga mutu usahanya.


Memulai usaha dari nol membutuhkan perjuangan. Banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi para pelaku usaha. Mereka ditempa dan dikuatkan mentalnya. Siapa yang bertahan, itulah yang akan mencapai kesuksesan.

DIAH ANGGRAENI

RIKA Suhardani, salah satunya. Dia memulai bisnisnya dari nol. Tepatnya pada tahun 2000, saat perempuan cantik ini duduk di bangku SMA Negeri 6 Balikpapan. Niat awal ingin mendapat uang saku tambahan justru menjadi sumber penghasilan.

“Awalnya iseng aja. Jualan cimi-cimi buatan ibu,” kata Rika saat ditemui di rumahnya di kawasan Jalan Batu Butok.

Siapa sangka teman-temannya di sekolah menyukainya. Awalnya dia hanya membawa satu hingga dua kantong plastik. Namun, karena banyaknya permintaan, sang ibu bernama Suharti pun dalam sehari memproduksi 100-150 cimi-cimi.

“Teman itu ada yang marah karena kehabisan, akhirnya kami menambah produksi. Harganya saat itu murah saja, Rp 200 per bungkus. Modal awal hanya sekira Rp 300 ribu saja,” kata alumnus Jurusan Akuntansi STIE Madani ini.

Usaha makanan ringan yang mulai diminati teman-teman sekolahnya malah menjadi cibiran tetangga sekitar. “Kadang saya itu diolok-olok sama tetangga, jadi saya jualan sembunyi-sembunyi,” kenangnya. Hal itu tidaklah membuat dirinya menjadi rendah diri. Justru sebaliknya, dia malah semakin terpacu untuk mengembangkan usahanya.

“Saya lihat prospeknya bagus, jadi saya terus jualan. Tidak hanya di kantin sekolah, cimi-cimi saya juga mulai dijual di warung-warung,” kata ibu tiga anak ini.

Tahun 2009, dari warung kemudian dirinya merambah ke swalayan kecil. Usahanya makin berkembang ketika dia bergabung dengan Koperasi Semayang. Setahun setelahnya, usahanya mulai didistribusikan di retail-retail besar.

“Usaha makin berkembang ketika dibina Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian. Usaha saya mendapat sertifikasi halal dan gratis. Tahun 2015, saya pun mulai memasok sendiri ke retail modern lainnya,” ujar perempuan berhijab ini.

Saat ini dengan dibantu lima orang yang tak lain keluarganya, dia mampu memproduksi 100-200 bungkus cimi-cimi dalam sehari. “Sabtu dan Minggu sering libur, dalam sebulan sekira 4 ribu bungkus. Alhamdulillah, saat ini kami sudah memiliki gilingan besar roti,” terang Rika. 

Kualitas adalah hal terpenting. Dirinya selalu menjaga produknya. Menurutnya, kemasan dan rasa menjadi daya tarik bagi pembeli sehingga mereka akan ketagihan. Dia pun terus berinovasi, yang mana saat ini cimi-ciminya sudah memiliki empat rasa. Yakni, rasa bawang seledri yang paling laris, keju, balado, dan teri medan.

Rika juga melakukan survei secara langsung ke warung maupun retail yang dipasoknya. Jika kemasan rusak dan cimi-cimi mengalami patah, dia akan menarik barangnya dari peredaran. Produk yang retur pun tidak akan dia jual kembali, melainkan dia buang.

“Alhamdulillah, kalau dirata-rata dalam sebulan, bersih itu Rp 10 juta. Pemasarannya sudah se-Kaltim. Harganya itu Rp 27 ribu dengan berat 400 gram. Tanpa pengawet, bisa tahan enam bulan,” ujar Rika yang dari dulu bercita-bercita membuka lapangan kerja ini.

Dalam menjalankan usahanya saat ini, dia memiliki sejumlah kendala. Pertama adalah besarnya pajak retail. “Kita kalah sama pabrik yang besar dengan harga yang murah. Belum lagi dipotong retur. Ibaratnya kalau di retail itu gambling,” ujar perempuan 43 tahun ini.

Selanjutnya adalah persaingan yang semakin ketat dan kurangnya sumber daya manusia (SDM). “Cari SDM yang punya rasa saling memiliki susah. Kami juga belum mampu untuk membayar upah sesuai UMK,” lanjutnya. Terakhir, sertifikasi halal yang harus diperbarui dua tahun sekali.

“Lumayan biaya perpanjangannya, Rp 2 jutaan. Kalau barengan sama kemasan produk yang habis, cukup berat,” ujar Rika yang tidak boleh bekerja oleh sang suami usai lulus dari sekolah tinggi ekonomi.

Oleh karenanya, dia berharap, sertifikasi halal bisa diperpanjang masa berlakunya. “Jangan dua tahun sekali, kalau bisa lima tahun sekali. ‘Kan kalau ganti nomor, kami juga harus ganti semua kemasan. Kemasan itu juga enggak murah harganya,” jelas istri karyawan Pertamina. Selain itu, dia pun berharap pemerintah semakin memperhatikan UMKM yang ada di Kota Minyak.

Kesuksesan dalam menjalankan usahanya juga tidak terlepas dari keluarga dan kedua orangtuanya. Berkat doa dan dukungan mereka, kini Rika sudah bisa membeli rumah dan mobil. “Terpenting adalah percaya diri dengan produk sendiri, jaga mutu, Tak kalah penting adalah ulet dan terus semangat,” pungkasnya. (dia/ono)




Moderated by adminbp


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di