Risiko Gumpalan Darah Usai Vaksinasi Covid-19




16 Jun 2021, 09:27:00 WIB

Risiko Gumpalan Darah Usai Vaksinasi Covid-19

DARAH: Penelitian baru-baru ini memastikan risiko penggumpalan darah usai vaksinasi Covid-19 sangat rendah. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com )


SEJUMLAH kasus gumpalan darah usai divaksinasi Covid-19 menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat atau calon penerima vaksin. Sejumlah vaksin seperti AstraZeneca dikaitkan dengan kejadian tersebut. Namun penelitian baru-baru ini memastikan risiko gumpalan darah usai vaksinasi sangat rendah. Dilansir dari Science Times, dalam panduannya, The American Heart Association (AHA) menegaskan, kemungkinan mengalami trombosis sinus vena serebral (CVST) setelah menerima vaksin Covid-19 sangat rendah. Ini diungkapkan setelah laporan mengaitkan kondisi tersebut dengan vaksin Johnson & Johnson dan AstraZeneca.

Panduan ini dirilis setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS dan Food and Drug Administration, yang mencabut perintah jeda untuk penggunaan vaksin Johnson & Johnson atas kaitannya dengan CVST atau pembekuan darah dan sindrom trombosis-trombositopenia (TTS), yang merupakan gumpalan darah dengan jumlah trombosit rendah. Kondisi ini juga terkait dengan pasien di Kanada dan Eropa yang diberikan vaksin AstraZeneca.

Dalam panduan, diagnosis dan pengelolaan trombosis sinus vena serebral dengan trombositopenia trombotik imun yang diinduksi oleh vaksin, para peneliti menganalisis database dari 59 organisasi perawatan kesehatan dan 81 juta pasien, 98 persen di antaranya berada di AS. “Bahkan risiko CVST akibat infeksi Covid-19 bisa 8 hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan risiko CVST setelah menerima vaksin,” kata penulis utama Karen L. Fune, yang juga ketua Departemen Neurologi di Sekolah Kedokteran Warren Alpert, Universitas Brown di Providence, Rhode Island, dalam pernyataan AHA yang disiapkan. Mereka meyakinkan publik bahwa kemungkinan terjadinya CVST atau gumpalan darah setelah menerima vaksin Covid-19 sangat rendah. Artinya hasil ini akan mendorong semua orang dewasa untuk menggunakan vaksin yang disetujui FDA. Dalam penelitian di antara 514 ribu pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dari Januari 2020 hingga Maret 2021, ada 20 didiagnosis dengan CVST. Dari 490 ribu orang dewasa yang diberikan vaksin Moderna atau Pfizer-BioNTech, tidak ada kasus trombositopenia yang tercatat.

Penggumpalan darah CVST, jika terjadi, bisa diobati dengan antikoagulan non-heparin. Dengan penanganan yang tepat, kata dia, pasien bisa sembuh total. Diagnosis untuk CVST sebaiknya dilakukan dengan MRI dengan venogram atau CT dengan venogram, disamping hitung darah lengkap, hitung trombosit, waktu tromboplastin parsial, tes fibrinogen, waktu protrombin, tes D-dimer, dan tes ELISA antibodi PF4, Cardiovascular Business melaporkan. Untuk kasus CVST yang dikonfirmasi, perawatan antikoagulasi harus dilakukan. (jpg)




Moderated by Admin Sosmed BalPos 2


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di