Pertolongan Itu Ada meski Detik-Detik Terakhir

Agyana Amplang, Buah Kerja Keras Sriani (Bagian I)


24 Okt 2019, 10:57:24 WIB

Pertolongan Itu Ada meski Detik-Detik Terakhir

SEMANGAT BAJA: Merasakan berada di titik terbawah kehidupan, Sriani pun terus berjuang untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Mengirim usus basah seberat 140 kg ke PPU pun pernah dilakukannya dengan mengendarai sepeda motor.


Kehidupan laksana mengarungi samudera. Tidak hanya melihat birunya lautan, namun juga harus menghadapi tingginya gelombang. Ada yang menentang arus, ada pula yang mengikuti arus. Pilihan yang tepat akan menghantarkan ke pantai kebahagiaan.

DIAH ANGGRAENI

ANI, begitu Sriani akrab disapa. Pada usia kepala lima, dirinya telah merasakan asam dan garam kehidupan. Menjalani kehidupan di titik teratas, kemudian takdir Sang Pencipta mulai bekerja. Ani harus merasakan titik terbawah dalam kehidupannya.

Sekira akhir tahun 2010, keluarganya pun diuji. Usaha sang suami, Kerto Wiyono, mengalami kegagalan. Usaha kontraktor yang dijalani selama bertahun-tahun mengalami kebangkrutan. Aset-aset yang telah dikumpulkan dijual untuk menutupi pinjaman.

“Kami saat itu masih punya satu aset, rumah di sekitar Bumi Nirwana,” kenang perempuan ramah ini.

Satu tahun mereka kembali menata kehidupan. Tahun 2012, dia bersama sang suami lantas berjualan vas dan bunga di sekitar kawasan Pasar Buton. Kegiatan ini menjadi sumber penghidupan keluarganya.

“Saya dan suami menjual bonsai dan bunga gelombang cinta,” katanya.

Selama sekira dua tahun berjualan, pinjaman sisa kegagalan usaha masih menumpuk. Sang suami dan dirinya lantas menjual rumah yang menjadi satu-satunya aset yang dimiliki.

“Sisa failed masih ada, kami pun jual rumah. Sebagian untuk membayar utang, sebagian lagi untuk membeli rumah yang kami tinggali sekarang,” jelas ibu tiga anak ini.

Setelah pindah rumah dan tidak berjualan bunga, salah seorang temannya, pelaku UKM di Tanah Grogot Kabupaten Penajam Paser Utara, Suryati meminta Ani untuk memasok usus ke seberang.

“Saya mengirim usus basah. Saya sendirian kirimnya. Saat itu Bapak (sang suami, Red) sudah bekerja jadi sopir travel, bawa punya orang,” ungkap Ani.

Dia mengirim usus basah menggunakan styrofoam pada malam hari. Tekadnya yang ingin seperti orang lain, membuatnya tak menghiraukan bahaya berangkat menggunakan bus malam seorang diri.

“Saya hampir semalaman itu enggak tidur, akhirnya saya pun berinisiatif naik motor sendiri,” terangnya.

Berat usus basah yang dikirim pun tidak tanggung-tanggung, sekali pengiriman mencapai 100-140 kilogram. “Paling banyak 140 kilogram. Kalau 150 kilogram sudah nggak kuat motornya. Hujan-hujanan, panas-panasan, pecah ban. Berbagai macam kendalanya,” kata     perempuan asal Blitar, Jawa Timur ini.

Selama enam bulan menjalani usaha itu, kemudian dia mencoba membuat keripik usus. “Tapi saya enggak nanya apa resepnya, saya coba sendiri. Saya yakin pasti bisa, wong cuman buat gitu aja,” terang Ani.

Percobaan awal, dia membuat keripik usus seberat 15 kilogram. Namun, uji cobanya itu gagal, tidak bisa dimakan. “Sangat keras. Kalau dimakan, mungkin bisa gegar otak yang makan,” canda nenek dua cucu ini.

Kegagalan dengan modal pas-pasan tak membuatnya patah aral. Dia pun kembali mencoba. “Masih gagal, saya coba lagi,” ujarnya. Berkali-kali mencoba hingga dia lupa jumlahnya, akhirnya Ani berhasil. Dia kemudian ikut bergabung dengan Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian. “Saya dibina, kemudian saya semakin tahu bagaimana mengurus izin, membuat kemasan yang menarik. Hingga saat ini saya telah memiliki HKI (hak kekayaan intelektual, Red),” papar Ani saat ditemui di rumahnya di Perumahan Puri Mandastana.

Setelah dua tahun berjualan usus, usahanya belum mengalami perkembangan yang signifikan. Kemudian dia berinisiatif ingin mengembangkan usahanya.

“Tren penjualan keripik usus lambat, saya pun ingin berjualan oleh-oleh khas Balikpapan. Saya yakin, pertolongan itu ada meski di detik-detik terakhir,” pungkas perempuan berhijab ini.

Tekad kuat untuk meningkatkan taraf hidup seperti orang lain, ternyata menjadi pintu mencapai kesuksesannya.(vie)




Moderated by adminbp


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di