Mandi Empat Kali, hingga Dijauhi Keluarga

Kisah Petugas TPU Terpadu Km 15 Balikpapan


22 Jun 2020, 12:49:46 WIB

Mandi Empat Kali, hingga Dijauhi Keluarga

ANTISIPASI: Jalil saat menunjukkan liang lahat untuk lokasi pemakaman pasien Covid-19 di TPU Km 15 Karang Joang.


Keberadaan petugas di Tempat Pemakaman Umum (TPU) tak bisa lepas dari berbagai kisah yang tentunya memiliki cerita tersendiri. Tak sedikit menjadi pengalaman yang mungkin tidak akan bisa dilupakan selama bekerja memakamkan jenazah Covid-19.

SUDARMAN RAMADANI/BALIKPAPAN POS

PAGI itu Minggu (29/3) cuaca Kota Balikpapan cukup cerah. Jalil sedang berkumpul bersama keluarganya di rumah. Hari Minggu memang dimanfaatkannya untuk beristirahat dan bersantai dengan istri dan anak-anaknya. Tiba-tiba handphonenya berdering tepat pukul 13.00 Wita.

“Lil tolong disiapkan lubang di TPU, posisinya yang di bawah itu, ini jenazah Covid ya,” ujar Jalil menirukan ucapan pimpinannya.

Jalil merupakan petugas Tempat Pemakaman Umum (TPU) Terpadu di Jalan Soekarno-Hatta KM 15 Karang Joang, Balikpapan Utara, yang sudah bertugas sejak tahun 2013 silam.

Mendengar jenazah Covid-19, perasaan pria berusia 44 tahun itu campur aduk, karena baru pertama kali dia memakamkan jenazah Covid-19. Dia bingung karena proses pemakaman pasti berbeda dengan jenazah pada umumnya.

Jalil pun memberanikan diri menuju ke TPU Terpadu KM 15 dari rumahnya di KM 5 Graha Indah. Disebutkan, lokasi pemakaman jenazah Covid tidak berada dalam satu area dengan jenazah umum. Dipilih lahan yang paling bawah di TPU itu. Kontur tanahnya lempung dan penggalian harus cepat selesai. Di tengah sinar matahari yang terik, dia dibantu dua rekannya dalam membuat liang lahat.

“Dua jam harus sudah selesai buat lubangnya. Karena katanya empat jam setelah meninggal, jenazah Covid harus sudah dikubur,” ujar Jalil.

Sekitar pukul 15.30 Wita liang lahat sudah siap. Karena jenazah Covid-19 menggunakan peti, maka Jalil menggali lubang dengan panjang 250 centimeter dan lebar 90 centimeter, serta kedalaman mencapai 150 centimeter. Selang setengah jam berlalu, sekira pukul 16.00 Wita, iringan mobil jenazah yang dikawal mobil petugas Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub) tiba di lokasi TPU Terpadu KM 15.

Saat mobil jenazah itu tiba, tidak serta merta langsung mengeluarkan peti jenazah dari dalam mobil. Sempat ada diskusi sebentar antara petugas rumah sakit dengan petugas pemakaman terkait protokol pemakaman.

Jalil yang pada saat itu sudah ikut terlibat dalam pembuatan lubang, kembali ikut terlibat dalam perbincangan. Dia diminta untuk membantu menurunkan peti ke dalam liang lahat.

 “Waktu itu diberi pengarahan dulu dan diminta pakai baju hazmat,” aku Jalil.

Mau tidak mau Jalil dan kedua rekannya dibantu petugas rumah sakit, menggunakan baju hazmat dan masker. Setelah itu barulah peti dikeluarkan dari mobil jenazah, diangkat empat petugas peti ini lalu diletakkan di atas lubang yang sudah diberi dua kayu ulin melintang di bawahnya.

Jalil mengaku cukup berhati-hati dan menuruti segala aba-aba yang diperintahkan pimpinannya, termasuk saat menurunkan peti jenazah ke dalam liang lahat. Antara satu sisi tali diturunkan secara bersamaan, tidak bisa sembarangan menurunkannya.

“Ada yang beri aba-aba, tali yang di kiri dikendurkan, kanan jangan terlalu cepat dikendurkan,” ucap Jalil.

Butuh waktu sekira 30 menit prosesi pemakaman selesai dilakukan. Karena jenazah muslim, maka proses pemakaman tetap disertai adzan dan doa.

Kelelahan yang amat sangat dirasakan Jalil bersama kedua rekannya. Belum hilang lelahnya, Jalil sudah diminta untuk melepas baju hazmat yang dikenakannya. Saat dibuka, baju kaos yang dipakai sudah basah dengan air keringat. Jalil mengaku kepanasan selama menggunakan baju hazmat.

“Panas, apalagi kalau bernapas terhalang masker yang tebal sampai dua lapis,” imbuhnya.

Setelah baju hazmat dilepas, sekujur tubuh Jalil disemprot cairan disinfektan. Baju hazmat dibakar. Yang terbayang di pikirannya hanya pandangan warga terutama para tetangganya pasca dia memakamkan jenazah Covid. Untuk meyakinkan diri dan para tetangga kalau tubuhnya bersih dari virus, Jalil mandi tiga hingga empat kali usai proses pemakaman itu. Bahkan sampai menghabiskan satu botol sabun mandi.

“Di kantor TPU ada kamar mandinya, jadi saya mandi dulu sebelum pulang ke rumah. Nanti sampai di rumah mandi lagi,” ujar pria yang dikaruniai empat anak ini.

Maklum saja Jalil ingin dirinya betul-betul bersih, karena dia memiliki bayi yang masih berusia 7 bulan. Untuk itu saat di rumah pun dia harus menjaga jarak dulu dengan keluarganya hingga dia yakin tidak terpapar virus.

“Tetangga dan keluarga sudah pada tahu kalau saya kerjanya di TPU Terpadu. Waktu dengar ada jenazah Covid-19 dikuburkan di TPU Terpadu, keluarga saya mulai menjauh untuk sementara waktu,” ucapnya.

Jalil harus tidur di ruang tamu selama dua minggu. “Ya saya sempat khawatir juga sama anak dan istri, makanya saya pilih jaga jarak dulu,” akunya.

Meski demikian, Jalil memberikan pemahaman kepada keluarganya, jika dalam proses pemakaman jenazah Covid-19, dirinya sudah menjalankannya sesuai dengan protokol yang sudah ditentukan pemerintah.

“Sudah saya beri pemahaman, tapi yang namanya keluarga sudah dengar macam-mcam di medsos, jadi tetap saja saya dijauhi sesaat,” imbuhnya.

Saat ini Jalil masih terlibat dalam proses pemakaman jenazah Covid-19. Hanya saja sekarang sudah bagi tugas. Untuk yang menggali dan menurunkan jenazah ke liang lahat, orangnya berbeda. Untuk yang menggali ada 8 orang dan yang menurunkan jenazah ada 6 orang. Penggali memang lebih banyak dari  biasanya, karena kontur tanah di area khusus jenazah Covid-19 itu, lempung dan cukup sulit digali.

Untuk mengantisipasi jika ada jenazah yang harus dimakamkan pada malam hari, Jalil dan kawan-kawan sudah menggali lubang lebih dulu pada siang harinya, sehingga tidak  buru-buru harus menggali jika ada perintah dadakan dari atasannya.

 “Kami siapkan lubangnya, petugas kan tidak semua tinggal dekat TPU ini. Jadi kalau ada pemakaman malam hari bisa segera langsung dikerjakan,” tuturnya.

Jalil pun berharap agar masyarakat mengikuti anjuran pemerintah kota dalam penanganan Covid-19 di Balikpapan. Karena menurutnya, sedihnya itu saat ada yang meninggal, keluarga yang mengantarkan ke pemakaman hanya diperbolehkan perwakilannya saja. Terlebih jika ada jenazah yang terpaksa tidak bisa diantar oleh pihak keluarga.

Terkait penataan terhadap makam, Jalil pun tidak membedakan antara makam Covid-19 dengan makam umum lainnya. Semua makam ditata dibuat persegi panjang, ditanami rumput Jepang, dan dipasangkan nama di nisan.

 “Ada satu makam yang belum kami kasih plakat nama, sejak dari jenazah dimakamkan, belum pernah ketemu kerabat atau ahi warisnya di pemakaman,” tutur Jalil.

Pemerintah Kota Balikpapan memang memisahkan makam jenazah Covid-19 dengan makam biasa. Namun lokasinya tetap sama, masih di kawasan TPU Terpadu KM 15.

“Memang tidak berdekatan dengan area pemakaman muslim, tapi di TPU juga, jaraknya sekitar 50 meter,” ujar Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman Disperkim Balikpapan, Hairul Ilmi.

Menurutya, sejauh ini tidak ada penolakan dari masyarakat sekitar. Karena sudah ada 10 pasien yang meninggal dan dimakamkan di TPU tersebut. tujuh pasien dalam pengawasan (PDP) negatif corona dan tiga pasien positif corona.

“Antar makam juga diberi jarak, sekitar lima meter,” jelas Ilmi.

Kata dia, untuk petugas pemakaman tetap wajib menggunakan alat pelindung diri (APD). Termasuk petugas dari rumah sakit yang membantu memakamkan jenazah. (dan/cal)




Moderated by Admin1


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment



Kurs Valuta

UPAH MINIMUM TAHUN 2020
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
KALTIM UMUM 2.981.378,72
BALIKPAPAN UMUM 3.069.315,66
BERAU UMUM 3.386.593,23
BONTANG UMUM 3.182.706,00
KUBAR UMUM 3.309.555,00
KUKAR UMUM 3.179.673,00
KUTIM UMUM 3.140.098,00
PASER UMUM 3.025.172,00
PPU UMUM 3.363.809,79
SAMARINDA UMUM 3.112.156,40