Jangan Asal Minum Antibiotik saat Sakit

Bisa Ancam Kesehatan


16 Jun 2021, 09:09:24 WIB

Jangan Asal Minum Antibiotik saat Sakit

OBAT antibiotik hanya diperuntukkan untuk mengobati infeksi bakteri. Bila digunakan di luar itu, maka bisa berpotensi menyebabkan masalah pada kesehatan, seperti memunculkan diare, mual, dan lainnya. Di sisi lain, perilaku misused (penggunaan yang salah) pada antibiotik juga bisa berisiko meningkatkan resistensi antibiotik. Artinya, bakteri lebih sulit ditangani karena bisa mengatasi efek antibiotik dengan dengan menetralkan antibiotik atau melindungi bakteri itu sendiri.

"Dalam situasi normal antara bakteri resisten dan sensitif (jumlahnya) seimbang sehingga kita tidak sakit. Suatu saat kita menggunakan antibiotik tidak sesuai protokol, semakin diberikan maka yang mati bakteri sensitif, (bakteri) yang resisten tetap tumbuh," ujar dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik-infeksi di RSUD Dr Soetomo Erwin Astha Triyono. Erwin menyoroti penyebab resistensi ini akibat perilaku overused atau penggunaan antibiotik bukan dalam jangka waktu seharusnya. Sebagai contoh, antibiotik seharusnya diberikan untuk tiga hari, tetapi justru dikonsumsi lebih lama dari itu. Selain itu, antibiotik seharusnya digunakan dalam bentuk sederhana, tetapi dipilih yang versi terbaru.

Penjualan bebas antibiotik, profilaksis yang bisa menyebabkan overused atau misused juga menjadi penyebab resisten. "Hampir 70-80 persen penggunaan antibiotik tidak bijak, mendekati tidak rasional," tutur Erwin.

Saat seseorang sudah resisten antibiotik, maka muncul masalah lain yakni morbiditas atau kesakitan bertambah. Risiko mortalitas meningkat karena seharusnya penyakit bisa teratasi dengan antibiotik. Tetapi akibat sudah resisten justru menyebabkan pengonsumsinya meregang nyawa.

Masalah lainnya, rawat inap menjadi lebih panjang karena dokter perlu terus mencari antibiotik yang tepat untuk penyakit pasien dimaksud. Pembiayaan yang meningkat serta menularkan pada pasien lain di rumah sakit yang sama akibat tidak menerapkan perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan.

"Kalau sudah resisten, yang terbaik menggunakan pemeriksaan mikrobiolgi untuk tahu jenis kumannya dan resisten terhadap antibiotik mana. Resisten kalau masih sederhana bisa menggunakan obat lain, tetapi kalau sudah multidrug resisten itu susah," kata Erwin.

  1. Efek Buruk Antibiotik Lainnya

Antibiotik yang bermanfaat mengatasi infeksi bakteri juga punya efek negatif, salah satunya pada sistem kekebalan tubuh pasien yang merupakan pertahanan terhadap bakteri invasif, virus, dan patogen berbahaya lainnya.

"Kadang-kadang, sistem kekebalan tubuh tidak dapat melawan infeksi bakteri sendirian, yaitu ketika antibiotik masuk," kata pakar imunologi dan alergi yang berbasis di Michigan Kathleen Dass, dikutip dari Insider.

Ahli mikrobiologi di American Council on Science and Health Alex Berezow mengatakan, antibiotik dapat menghancurkan bakteri normal dan sehat di usus. Sehingga mempengaruhi fungsi sistem pencernaan, metabolisme, dan bagian dari sistem kekebalan yang ada di saluran pencernaan.

Pada manusia, Berezow mencatat, perubahan flora usus atau bakteri yang hidup di dalam saluran pencernaan juga dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi. Dan, perubahan mikroorganisme penting di usus karena antibiotik bisa permanen.

"Flora normal Anda mungkin tidak pernah benar-benar kembali normal," kata Berezow.

Selain itu, ada juga efek toksisitas, seperti gangguan ginjal dan hati, reaksi hipersensitivitas. Misalnya reaksi anafilaksis dan Steven-Johnson Syndrome, hingga gangguan kehamilan atau janin.

  1. Bijak Gunakan Antibiotik

Perlu bijak dan rasional dalam menggunakan antibiotik sehingga antibiotik overused dan misused tak terus terjadi dan prevalensi resisten jadi menurun serta kerugian jangka panjang bisa dikurangi.

"Kalau penggunaan antibiotik tidak tepat, maka kecepatan resisten lebih tinggi. Ini ditakutkan kita kembali ke zaman pra-antibiotik dan peningkatan kematian," kata Erwin.

Perlu membekali diri dengan pengetahuan terkait penyakit bukan akibat bakteri yang tak perlu antibiotic, seperti cacar air, pilek, batuk, campak, diare. Demikian pula halnya dengan tindakan sirkumsisi (sunat), cabut gigi, persalinan normal (melalui vagina) pun tidak memerlukan antibiotik.

Apabila merasa sakit karena pilek, flu, minum antibiotik tidak akan membantu mencegah penyebaran penyakit. Anda bisa saja sulit untuk mengetahui penyakit yang diderita karena virus atau bakteri. Faktanya, beberapa penyakit seperti sinus dapat disebabkan oleh bakteri atau virus.

Selain itu, banyak gejala infeksi virus dan bakteri yang tumpang tindih. Misalnya, flu dan radang tenggorokan (infeksi bakteri) dapat menyebabkan sakit tenggorokan.

Dokter bisa membantu menentukan, apakah penyakit yang diderita akibat bakteri atau virus, melalui pemeriksaan.

Saat Anda ternyata tidak mendapat resep antibiotik, artinya penyakit tersebut bukan karena bakteri. Sehingga antibiotik tidak akan efektif. Namun, dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, penggunaan yang berlebihan menyebabkan resistensi antibiotik.

Dalam kesempatan itu, perwakilan Yayasan Orang tua Peduli (YOP) Vida Parady menambahkan, pasien punya peran untuk berkonsultasi dengan dokter untuk meredam penggunaan obat tidak rasional. Pasien dan dokter perlu bermitra agar bisa memperbaiki pola peresepan agar lebih rasional.

Selain itu, pelaku industri farmasi juga bisa ikut berperan di sini. Salah satunya dalam bentuk penyediaan panduan praktik klinis bekerja sama dengan perhimpunan medis terkait. Termasuk program edukasi publik tentang bahaya resistensi antimikroba (AMR) melalui media massa. (ant/jpg)

 




Moderated by Admin Sosmed BalPos 2


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di