Buah Keuletan, Panen Sembilan Ton Semangka

Kisah Ahmad Zaini, Petani Sukses dari Manggar – (Bagian 2/Habis)


14 Sep 2019, 12:13:33 WIB

Buah Keuletan, Panen Sembilan Ton Semangka

MELIMPAH RUAH: Panen semangka di Jalan Matrodji, RT 15 Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur. Hasilnya memuaskan, bibit yang ditanam berbuah semua.


Tak memiliki latar belakang sebagai seorang petani, tidak membuat tekad Ahmad Zaini Nur menguap. Keuletannya membuahkan kesuksesan. Bahkan, beberapa waktu lalu, Zaini berhasil memanen sembilan ton semangka.

DIAH ANGGRAENI

KEDATANGAN ke Kota Minyak menjadi babak baru dalam kehidupannya. Hidup bersama sang istri, Suhartini dan sang anak di TPA Manggar semakin memacunya untuk menjadi sukses. Meskipun Selama beberapa tahun menjadi petani, keuntungan yang didapat belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Bisa balik modal saja sudah alhamdulillah,” kenangnya.

Zaini lantas mencoba peruntungan baru. Dia bekerja ikut Mispan, salah seorang pemilik perumahan di kawasan Manggar, Balikpapan Timur.  Tempat tinggalnya pun ikut pindah. Selama dua tahun bekerja, dia lantas merasa bahwa pekerjaannya itu bukanlah bidangnya.

“Ya, namanya ikut orang, ‘kan nggak enak. Saya pun memutuskan untuk mandiri,” katanya.

Dia akhirnya memutuskan untuk menekuni pekerjaan sebelumnya, menjadi seorang petani semangka. Lahannya dipinjami mantan bosnya, Mispan. Letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya di perumahan. Tetap sama, dia menanam semangka.

Hasil panennya, lumayan. Dia bisa menabung. Sedikit demi sedikit. “Saya lantas bisa bangun rumah di sini (RT 15 PJHI). Saya pindah, kemudian jadi petani lagi. Lahannya dekat sini saja,” ujarnya. Namun, lahan itu bukanlah miliknya. Dia dipinjami, bibitnya beli sendiri.

Keputusannya tak selalu berjalan mulus. Dia pernah merugi. Dia gagal panen. “Bukan gagal total. Tapi saya rugi, banyak semangka yang busuk,” jelasnya. Meski demikian, Zaini tidak patah aral. “Rugi itu saya anggap biasa dalam usaha. Malah, kerugian ini semakin memacu saya untuk lebih giat bertani,” imbuhnya.

Kesabaran dan keuletannya membuahkan hasil. Panennya berhasil. Tidak ada “resep” khusus. Sistem bercocok tanamnya sama seperti petani lainnya.  “Enggak ada yang istimewa. Sama saja dengan petani lain. Saya dapat ilmu bertani juga dari teman, berbagi ilmu sama teman,” terangnya.

Dia mengatakan, hal pertama yang dilakukan adalah menggemburkan tanah. “Kalau pakai traktor cepat, sehari bisa selesai. Tapi kalau cara manual, ya bisa satu hingga dua bulan,” jelas kakek dari empat cucu ini. Tidak hanya membutuhkan waktu yang lama, cara manual juga membutuhkan biaya lebih.

“Mei lalu, saya pakai tenaga lima orang untuk mencangkul, saya habis Rp 5 juta. Itu untuk tenaga aja. Hasilnya pun tak sebagus pakai traktor. Kalau traktor hanya butuh Rp 1 juta, bisa langsung tanam,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, dia pun berhasil memanen semangka seberat sembilan ton. Hasil panennya itu berasal dari empat bungkus bibit semangka, yang mana per bungkus berisi 300 biji. Bibit ditanam di lahan yang tanahnya sudah digemburkan, dicampur pupuk kandang.

“Masa panen itu 65-70 hari sejak masa tanam. Kalau tanam sama perkawinan butuh satu bulan. Saya juga nggak menyangka bisa berbuah semua,” katanya.

Keuntungan yang didapat pun cukup menggiurkan. Bermodalkan Rp 6 juta, dia dapat meraup keuntungan sekira Rp 25 juta. “Ya, hitung saja, setiap ton itu dibeli Rp 3,5 juta. Alhamdulillah,” ujarnya.

Ketika ditanya hambatannya dalam bertani, dia mengatakan, tidak adanya traktor. “Kalau penyakit di sini enggak rawan. Masih steril lingkungannya. Kalau semangka lebih baik musim panas daripada hujan. Kalau hujan banyak jamur dan ulat,” terangnya. Hasil panennya lantas diambil tengkulak lokal, kemudian dipasarkan di Balikpapan dan Samarinda.

Kini, di usianya 68 tahun, Zaini tinggal menikmati jerih payahnya selama 11 tahun bertani. “Alhamdulillah, sudah ada rumah. Empat anak saya juga sudah,” ungkapnya. Tidak hanya rumah, dirinya bersama sang istri juga sudah menjalankan ibadah umrah. Jika tidak bertani, dia pun sudah memiliki usaha sampingan, yakni toko sembako dan material bangunan. (ono)




Moderated by Redaksi


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di